Mengapa Berhijab?

by - Desember 21, 2016

Kalo sedikit ditarik ke belakang, aku terlahir dari keluarga yang menerapkan pendidikan agama sedari kecil. Sejak TK hingga SD merupakan sebuah kewajiban bagiku dan adek untuk bersekolah di sekolah swasta islam. Kata Ibu dan Bapak, pendidikan agama sejak kecil adalah bekal di kemudian hari.


Sekolah tersebut bernama TK & SD Islam Hidayatullah. Sekolah ini bersistem full day school gitu. Jadi ketika bocah SD bisa bobok siang sepulang sekolah, aku biasa pulang sekolah jam 4 sore atau ikut kelas TPQ di sore harinya. Pelajaran agamanya pun ada 5 macam, yaitu Aqidah Akhlaq (belajar tentang aqidah Islam), Fiqih (mempelajari sumber hukum Islam), Tarikh (belajar sejarah dan kebudayaan Islam), Al Qur'an dan Hadits (mempelajari mengenai makna ayat di Al-Qur'an dan Hadits) dan Bahasa Arab.

Jadi, harapan setelah lulus dari sekolah ini, selama kurang lebih 8 tahun bersekolah disini diharapkan menjadi lulusan yang memiliki pondasi islam yang kuat (Insya Allah). Masih inget banget perjuangan ketika ujian praktek SD, kami harus mempelajari semua jenis shalat sunnah beserta niatnya dan harus menghapal Juz Amma. Yang aku rasain setelah lulus dari sini memang bener-bener kerasa ilmu agama yang didapet, nggak didapet di sekolah lain. 

Masuk SMP dan SMA, aku dibebaskan untuk memilih sekolah negeri yang diinginkan. 8 tahun bersekolah mengenakan jilbab, kemudian masuk masa remaja dengan melepas  jilbab. Sama seperti remaja pada umumnya yang sedang mencari jatidiri dan suka hal yang berbau senang-senang (sekarang pun masih sih hehehe..). Orang tua tidak serta merta mewajibkan berjilbab. Menurut mereka, segala sesuatu itu harus berasal niat dan atas keinginan diri sendiri. Mereka tidak mau, keinginan memakai jilbab itu justru menjadi paksaan bagiku. 

Tahun 2010, ketika mulai berkuliah di Telkom Bandung pun aku masih belum mengenakan jilbab. Hingga Desember 2010, sebelum Eyang Kakung aku meninggal, beliau masih sempat bergurau kepadaku "Putune Ustad kok orak nganggo jilbab" yang kira-kira dalam bahasa Indonesia artinya gini "Cucunya Pak Ustad kok gak pake jilbab". Saat itu aku hanya menganggap itu lelucon dan angin lalu.



Anggapanku ketika itu adalah berjilbab bisa nanti kok, yang penting aku nggak meninggalkan sholat 5 waktu. Keinginanku saat itu adalah aku masih pengen pake rok-rok lucu layaknya cewek pada umumnya, masih doyan pake baju lucu yang mostly berlengan pendek, masih suka anehin style rambut. Dan lagi, aku sering kemakan konsep jilbab hati saja dulu (yang selama ini banyak dipegang teguh wanita yang galau kapan memakai jilbab). Intinya, aku belum siap berjilbab.

Tahun 2015, tepatnya ketika masuk 6 bulan masuk kerja dan merantau di Jakarta. Keinginan memakai jilbab itu muncul. Entah ini datangnya darimana, aku mulai mencari tahu tentang pemakaian jilbab di lingkungan kantorku (yang mayoritas beragama non muslim). Bertanya ke senior di kantor, ngobrol dengan wanita berjilbab di kantor yang kutemui ketika sholat, dan meminta pendapat ke rekan kerja sesama muslim. Karena dasarnya rasa keingin tahuan ku tinggi (alias kepo hahaha), aku mulai googling apakah ada UU Ketenagakerjaan yang melarang seorang muslimah berjilbab di lingkungan kantor hahaha

foto pertama pake jilbab :)

Alhamdulillah banyak dapet tanggapan positif namun ada juga yang negatif dan nggak make sense menurutku. Namun entah kenapa, tanggapan negatif (yang menurutku nggak masuk akal) itu justru membuatku makin mantap menggunakan jilbab. Alhamdulillah akhirnya tanggal 14 Oktober 2015, saat itu tepat Tahun Baru Islam 1437 H, aku mantap menggunakan jilbab. Tahun baru seperti terlahir kembali dengan jiwa yang baru yeay! 

Ada beberapa alasan kuat yang membuatku mantap menutup aurat ketika saat itu usiaku 23 tahun, yakni :

Memperbaiki Ibadah
Saat itu, ada seseorang yang berkata kepadaku (aku lupa kapan dan siapa yang ngomong gini ke aku), "yang wajib kok ditinggal, sedangkan yang sunnah kok rutin dilakukan". Kalimat ini ngena banget di aku. Aku berusaha rutin melakukan ibadah sunnah, namun kewajiban utama seorang muslimah kok malah aku tinggalkan. Kenapa justru kewajiban menutup aurat kok aku hiraukan. Konsepku jelas salah saat itu, aku tak paham apa yang sebenarnya menjadi kewajibanku. 

Kewajiban bagi seorang anak perempuan
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS Al-Ahzab: 59)
Bagi seorang anak perempuan yang seharusnya tunduk dan patuh kepada Ayahnya, aku merasa kerdil ketika membaca ayat di atas. Yang aku pernah baca di sebuah buku "satu langkah anak perempuan keluar dengan terlihat auratnya. Maka satu langkah ke neraka bagi Ayahnya". Sangat menohok untukku ketika membaca itu. Tanpa aku pun, Ayahku sudah banyak dosa, ditambah lagi aku belum berjilbab. Rasanya sedih seperti menambah dosa untuk Ayahku. Aku berharap sedikit demi sedikit langkahku ini bisa mengurangi jalan beliau ke neraka :(

Bentuk Taat Kepada Allah
Mengenai lingkungan minoritas di kantor, ada seorang teman baikku yang sering sharing ke aku soal Islam, Fantri namanya. Sebelum berjilbab, aku sharing ke dia, ketika itu dia memberitau kutipan sebuah hadits.
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."

Saat ini, Alhamdulillah sudah setahun aku berjilbab. Ketika sudah berjilbab pun, aku tidak merasa aku menjadi muslimah yang baik dan taat. Justru aku merasa belum cukup baik. Ilmu agamaku masih jauh dari kata sempurna, ibadahku juga belum cukup, masih sering lalai terhadap kewajiban, masih sering melakukan yang diharamkan, dan masih belum bisa menjaga perkataan dan perbuatan. Aku masih jauh dari kata muslimah yang baik.

Menurutku, jilbab itu proses. Sampai detik ini pun aku masih  berproses terus menerus. Terus belajar dan terus memperbaiki diri.

Semoga aku tidak lelah berproses untuk menjadi yang lebih baik ya :) 

You May Also Like

0 komentar

Diberdayakan oleh Blogger.