Rabu, 04 Januari 2017

My 2016 Travel Journal

2016 sudah berlalu. Tahun 2016 versiku adalah tahun eksplorasi. Alhamdulillah banyak tempat baru yang dikunjungi. Tempat yang sebelumnya gak kebayang bisa kesana, alhamdulillah bisa kesana. 

Dari tahun 2015-2016 udah ke banyak tempat, wishlistnya belum abis juga huhu justru makin banyak
Semoga masih ada waktu, tenaga dan biaya (tentu saja ya! haha) untuk mengunjungi lebih banyak tempat baru di 2017.

Dear HR Director, mutasi maybe?

Here's my summary of 'Woro Menjelajahi Indonesia 2016':

My Best 9

  1. Lahir dan besar di Semarang, rasanya belum puas explore kampung halaman sendiri. Awal tahun, first time ke Candi Gedong Songo yeay!
  2. Maret 2016, My golden sunrise from Puncak Sikunir, Dieng Wonosobo. My best shot ever.
  3. Short gateway ke Dieng dengan tujuan utamanya kondangan, namun mlipir sedikit untuk traveling. Telaga Warna di Dieng
  4. Foto pertama ketika menginjakkan kaki di Derawan. Nggak kebayang sebelumnya bisa kesini, walaupun sangat menguras tabungan tapi gak nyesel juga! Hahaha
  5. My favorite shot di Derawan. Sejujurnya gak ada niatan kesini sebelumnya, namun didorong rasa stres pekerjaan dan hati yang sedang bergejolak (biasa, anak muda hahaha) akhirnya bulan Mei 2016 bisa kesini juga. Dan rela cuti hari Senin!
  6. Kebun Buah Mangunan. Sejujurnya, dalam setahun jarang pergi travelling yang bener-bener ter-planning. Kebanyakan pergi travelling dengan tujuan utamanya bukan travelling, kayak kondangan, ada acara atau gathering komunitas. Kayak pas kesini, niat awalnya mah kondangan. Tapi explore dan hunting foto bagus itu wajib! Hehehe
  7. Sering ke Yogyakarta tapi jarang banget main ke pantainya di Gunung Kidul. Punya kesempatan ke Yogya yang too mainstream, alhasil menjelajahi pantai di Gunung Kidul. It was awsome.
  8. Pertama denger Sanghyang Heleut itu dari temen. Terus searching akses kesananya, karena amat susah dilalui dengan transportasi umum, makanya berpikir entaran aja kesininya. Tapi waktu itu lagi ada acara gathering komunitas di Bandung, terus beres acara langsung lanjut kesitu. Bandung selalu di hati ya❤
  9. Di penghujung tahun 2016, untuk kedua kalinya berhasil ke Karimun Jawa. Pertama kesini, belim begitu bagus. Namun sekarang jauh lebih bagus. Gak nyesel. And I got my another sunset


Sejujurnya di tahun 2017 sedang mengurangi aktivitas travelling, mengingat umur 'bersenang-senang' yang semakin berkurang dan ada hal lain yang lebih diprioritaskan. Jadi mungkin, Karimunjawa jadi destinasi terakhir sebelum puasa travelling.

Namun, semoga ada kesempatan atau rejeki tak terduga yang bisa bikin travelling ke suatu tempat.

Belajar Berjuang dari Dafi


Aku mengenal anak ini tidak lama, hanya 3 bulan. Dafi namanya. Berumur 1,5 tahun dan menderita leukimia sejak umur 5 bulan.

Sama seperti anak kecil pada umumnya yang masih suka bermain. Dafi pun sama. Pertama aku berkunjung ke rumahnya bulan November 2016, dia sedang bermain bersama tetangga dan saudaranya. Tak tampak fisiknya yang lemah, keceriaan masih terlihat di wajahnya. Hanya terkadang dia mudah lelah ketika terlalu capek ketika bermain.

Dafi anak ketiga dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang supir gojek dan Ibunya tidak bekerja. Kehidupannya sangat sederhana. Tinggal di rumah yang kecil bersama neneknya juga di daerah Rawa Selatan, Cempaka Putih.


Aku mengenal Dafi secara singkat karena Dafi adalah salah satu adik yang kami dampingi dibawah Yayasan Pita Kuning Anak Kanker Indonesia. Perkenalan singkat dengan Dafi begitu membekas di hati. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran ketika bertemu sosok Dafi dan keluarganya.

Tentang rasa syukur yang harusnya selalu dipanjatkan kepada Allah atas nikmat kesehatan yang diberikan olehNya. Beruntung sekali sekarang sehat wal afiat dan tidak kurang suatu apapun.
Tentang semangat juang yang ditunjukkan oleh Dafi dan keluarganya. Bahwa apapun kondisi dan permasalahannya, kita tidak boleh berputus asa. Dan berhenti mengeluh! :")
Tentang kepekaan terhadap kesehatan. Banyak hal yang harus diperhatikan untuk penderita kanker, terutama anak-anak. Makanan mereka, kebersihan dan bahkan cara menggosok gigi. Tampak sepele namun efeknya besar untuk kesehatan mereka


1 Januari 2017, sebuah permulaan baru bagi Dafi. Sekitar jam 12.30 siang, Dafi dipanggil oleh Allah setelah berjuang melawan kanker. Setelah kemoterapi yang kedua, tubuh Dafi tak mampu melawan sel kanker dan justru terus drop. Allah memilih takdir lain dan Allah lebih sayang kepada Dafi. Rasa sakit yang Dafi derita setahun lebih kini sudah sirna. Keluarga pun sudah ikhlas. Siapa sih yang tega melihat anak kecil kesakitan seperti itu?

Terima kasih Dafi atas pelajaran bernama 'kesabaran dan perjuangan'.
Semoga senyum bahagiamu masih bisa terukir di atas sana.

Selasa, 27 Desember 2016

Ibu Kedua di Hidupku

Masih di bulan Desember. Bulan spesial untuk seluruh Ibu di muka bumi. Kali ini, aku akan bercerita tentang sosok Ibu Kedua dalam hidupku. Beliau Eyang Putri, Ibunda dari Ibu kandungku. Aku dan para sepupu memanggil beliau Mbah Uti. Like javanesse pada umumnya.

Kenapa aku mau cerita soal beliau? Soalnya banyak kisah di antara aku dan beliau hehe

Masa kecilku sebelum bersekolah dihabiskan bersama beliau. Ketika kedua orang tuaku bekerja, aku dititipkan ke beliau untuk dijaga dan diasuh, karena rumah kami berdekatan. Hampir dua tahun aku menghabiskan waktu banyak bersama beliau, sebelum Ibuku memutuskan resign ketika umurku 4 tahun dan adikku lahir.

Ketika bersama beliau, hari-hariku dihabiskan dengan mengikuti kemanapun beliau pergi. Aku diajak berjualan di pasar. Mbah Uti berjualan di Pasar Peterongan Semarang, berjualan pakaian batik Pekalongan (karena beliau orang Pekalongan). Atau ikut Mbah Uti pergi mengaji di sore hari. Kebetulan beliau adalah koordinator Ibu-Ibu pengajian di komplek kami, hingga sekarang beliau berusia 67 tahun.

Aku terkadang sering iri, kenapa beliau pintar berdagang. Sekarang, beliau punya toko kelontong di rumah untuk mengisi masa tuanya. Seringnya, barang dagangan beliau seperti snack malah dijarah oleh para cucunya hahaha beliau selalu senang hati memberi kami snack dari warungnya..



Beliau selalu ingat makanan kesukaan dari setiap cucunya. Dan selalu berusaha memberi makanan kepada kami (para cucu) secara adil, sesuai kesukaan kami masing-masing.
Beliau punya 7 cucu dari ketiga anak perempuannya. Dan aku cucu pertama, yang paling menjadi tumpuan harapan untuk beliau. Banyak harapan dan doa yang beliau utarakan ke aku. Harapan untuk membanggakan, membahagiakan dan menjaga nama baik keluarga

Aku selalu menyempatkan waktu untuk bertemu beliau ketika pulang ke rumah (selama hampir 7 tahun merantau). Mendengarkan beliau bercerita tentang banyak hal, menemani beliau check up ke dokter, mendampingi dia ke pengajian bersama Ibu, atau sekedar menemani beliau pergi ke pasar

"Mbah Uti selalu ngedoain Woro biar sukses dan banggain keluarga"
Ujar beliau setiap kali aku pulang ke rumah.

"Mbah Uti pengen ngeliat Woro berumah tangga. Kalo Woro udah nikah, Mbah Uti dipanggil Allah yo gak papa"
Part tersedih yang pernah aku denger dari beliau.



Beliau saat ini berusia 67 tahun. Fisiknya tak sesehat dulu, ada penyakit yang menyerang tubuhnya yang membuat beliau harus sering kontrol ke dokter. Itulah yang menyebabkan Ibu mencurahkan waktunya untuk menjaga Mbah Uti selama 3 tahun terakhir. Tak banyak yang bisa aku lakukan dari jauh, selain berdoa untuk kesehatan 2 wanita penting tersebut, Ibu dan Mbah Uti.

Tak banyak yang aku pinta di hari Ibu kali ini, dan tak banyak yang bisa aku berikan di hari Ibu kali ini. Selain doa yang tak pernah putus untuk kesehatan 2 wanita penting dalam hidupku.

Semoga Mbah Uti diberi kesehatan. Semoga Ibu selalu dalam keadaan sehat. Dan semoga Ibu dan Mbah Uti selalu dalam lindungan Allah.

Semoga aku masih diberi banyak waktu untuk membahagiakan kedua wanita ini..

Selamat hari Ibu!
Aku selalu yakin bahwa Allah menjanjikan surga bagi setiap anak yang berbakti bagi Ibunya.

Rabu, 21 Desember 2016

Mengapa Berhijab?

Kalo sedikit ditarik ke belakang, aku terlahir dari keluarga yang menerapkan pendidikan agama sedari kecil. Sejak TK hingga SD merupakan sebuah kewajiban bagiku dan adek untuk bersekolah di sekolah swasta islam. Kata Ibu dan Bapak, pendidikan agama sejak kecil adalah bekal di kemudian hari.


Sekolah tersebut bernama TK & SD Islam Hidayatullah. Sekolah ini bersistem full day school gitu. Jadi ketika bocah SD bisa bobok siang sepulang sekolah, aku biasa pulang sekolah jam 4 sore atau ikut kelas TPQ di sore harinya. Pelajaran agamanya pun ada 5 macam, yaitu Aqidah Akhlaq (belajar tentang aqidah Islam), Fiqih (mempelajari sumber hukum Islam), Tarikh (belajar sejarah dan kebudayaan Islam), Al Qur'an dan Hadits (mempelajari mengenai makna ayat di Al-Qur'an dan Hadits) dan Bahasa Arab.

Jadi, harapan setelah lulus dari sekolah ini, selama kurang lebih 8 tahun bersekolah disini diharapkan menjadi lulusan yang memiliki pondasi islam yang kuat (Insya Allah). Masih inget banget perjuangan ketika ujian praktek SD, kami harus mempelajari semua jenis shalat sunnah beserta niatnya dan harus menghapal Juz Amma. Yang aku rasain setelah lulus dari sini memang bener-bener kerasa ilmu agama yang didapet, nggak didapet di sekolah lain. 

Masuk SMP dan SMA, aku dibebaskan untuk memilih sekolah negeri yang diinginkan. 8 tahun bersekolah mengenakan jilbab, kemudian masuk masa remaja dengan melepas  jilbab. Sama seperti remaja pada umumnya yang sedang mencari jatidiri dan suka hal yang berbau senang-senang (sekarang pun masih sih hehehe..). Orang tua tidak serta merta mewajibkan berjilbab. Menurut mereka, segala sesuatu itu harus berasal niat dan atas keinginan diri sendiri. Mereka tidak mau, keinginan memakai jilbab itu justru menjadi paksaan bagiku. 

Tahun 2010, ketika mulai berkuliah di Telkom Bandung pun aku masih belum mengenakan jilbab. Hingga Desember 2010, sebelum Eyang Kakung aku meninggal, beliau masih sempat bergurau kepadaku "Putune Ustad kok orak nganggo jilbab" yang kira-kira dalam bahasa Indonesia artinya gini "Cucunya Pak Ustad kok gak pake jilbab". Saat itu aku hanya menganggap itu lelucon dan angin lalu.



Anggapanku ketika itu adalah berjilbab bisa nanti kok, yang penting aku nggak meninggalkan sholat 5 waktu. Keinginanku saat itu adalah aku masih pengen pake rok-rok lucu layaknya cewek pada umumnya, masih doyan pake baju lucu yang mostly berlengan pendek, masih suka anehin style rambut. Dan lagi, aku sering kemakan konsep jilbab hati saja dulu (yang selama ini banyak dipegang teguh wanita yang galau kapan memakai jilbab). Intinya, aku belum siap berjilbab.

Tahun 2015, tepatnya ketika masuk 6 bulan masuk kerja dan merantau di Jakarta. Keinginan memakai jilbab itu muncul. Entah ini datangnya darimana, aku mulai mencari tahu tentang pemakaian jilbab di lingkungan kantorku (yang mayoritas beragama non muslim). Bertanya ke senior di kantor, ngobrol dengan wanita berjilbab di kantor yang kutemui ketika sholat, dan meminta pendapat ke rekan kerja sesama muslim. Karena dasarnya rasa keingin tahuan ku tinggi (alias kepo hahaha), aku mulai googling apakah ada UU Ketenagakerjaan yang melarang seorang muslimah berjilbab di lingkungan kantor hahaha

foto pertama pake jilbab :)

Alhamdulillah banyak dapet tanggapan positif namun ada juga yang negatif dan nggak make sense menurutku. Namun entah kenapa, tanggapan negatif (yang menurutku nggak masuk akal) itu justru membuatku makin mantap menggunakan jilbab. Alhamdulillah akhirnya tanggal 14 Oktober 2015, saat itu tepat Tahun Baru Islam 1437 H, aku mantap menggunakan jilbab. Tahun baru seperti terlahir kembali dengan jiwa yang baru yeay! 

Ada beberapa alasan kuat yang membuatku mantap menutup aurat ketika saat itu usiaku 23 tahun, yakni :

Memperbaiki Ibadah
Saat itu, ada seseorang yang berkata kepadaku (aku lupa kapan dan siapa yang ngomong gini ke aku), "yang wajib kok ditinggal, sedangkan yang sunnah kok rutin dilakukan". Kalimat ini ngena banget di aku. Aku berusaha rutin melakukan ibadah sunnah, namun kewajiban utama seorang muslimah kok malah aku tinggalkan. Kenapa justru kewajiban menutup aurat kok aku hiraukan. Konsepku jelas salah saat itu, aku tak paham apa yang sebenarnya menjadi kewajibanku. 

Kewajiban bagi seorang anak perempuan
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. (QS Al-Ahzab: 59)
Bagi seorang anak perempuan yang seharusnya tunduk dan patuh kepada Ayahnya, aku merasa kerdil ketika membaca ayat di atas. Yang aku pernah baca di sebuah buku "satu langkah anak perempuan keluar dengan terlihat auratnya. Maka satu langkah ke neraka bagi Ayahnya". Sangat menohok untukku ketika membaca itu. Tanpa aku pun, Ayahku sudah banyak dosa, ditambah lagi aku belum berjilbab. Rasanya sedih seperti menambah dosa untuk Ayahku. Aku berharap sedikit demi sedikit langkahku ini bisa mengurangi jalan beliau ke neraka :(

Bentuk Taat Kepada Allah
Mengenai lingkungan minoritas di kantor, ada seorang teman baikku yang sering sharing ke aku soal Islam, Fantri namanya. Sebelum berjilbab, aku sharing ke dia, ketika itu dia memberitau kutipan sebuah hadits.
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu dalam kebaikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."

Saat ini, Alhamdulillah sudah setahun aku berjilbab. Ketika sudah berjilbab pun, aku tidak merasa aku menjadi muslimah yang baik dan taat. Justru aku merasa belum cukup baik. Ilmu agamaku masih jauh dari kata sempurna, ibadahku juga belum cukup, masih sering lalai terhadap kewajiban, masih sering melakukan yang diharamkan, dan masih belum bisa menjaga perkataan dan perbuatan. Aku masih jauh dari kata muslimah yang baik.

Menurutku, jilbab itu proses. Sampai detik ini pun aku masih  berproses terus menerus. Terus belajar dan terus memperbaiki diri.

Semoga aku tidak lelah berproses untuk menjadi yang lebih baik ya :) 

Minggu, 18 Desember 2016

Good Start

Hallo!
Karena tak kenal maka tak sayang, maka dari itu yuk kenalan hehe Halo! Perkenalkan namaku Woro, bisa dilihat dari namanya, kalo aku gadis jawa tulen yang berasal dari Semarang. Lahir dan besar di kota tersebut, namun sudah 6 tahun (dan mungkin akan lebih) sedang merangkai mimpi (ceilah!) di Jakarta.

Sebenernya, blog ini udah dibikin sejak 2011 tapi amat sangat jarang diisi konten, eh ada beberapa konten namun akhirnya kuputuskan untuk menghapus semuanya hahaha

Like Coldplay said, on The Scientist;
I'm going back to the start

Ya! Sebuah langkah yang baik untuk kembali mulai menulis, mengeluarkan opini dan bercerita disini hehehe maafkan kalo mungkin (sangat) bawel dan doyan cerita, karena emang aku terlahir seperti itu  hahaha Happy Reading!